ANTISIPASI KECURANGAN SISTEM UNDANGAN MELALUI TEKNOLOGI BLOCKCHAIN

Posted by NalarOnLine on 2021-05-02 13:07:49

 

Berdasarkan momentum Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 2 Mei, maka Nalar Online mencoba berpartisipasi merayakannnya dalam sebuah tulisan yang direfleksikan dari kondisi riel Pendidikan Nasional kita. Tulisan ini merupakan sebuah refleksi sekaligus tawaran solusi terkait dengan sistem penerimaan mahasiswa baru jalur undangan.

Sistem undangan awalnya muncul tahun 1979 dengan nama Proyek Perintis 2 (PP 2), yang diadakan oleh empat perguruan tinggi negeri favorit (IPB, UI, ITB dan UGM). Para calon mahasiswa tidak perlu melakukan ujian tulis untuk mendapatkan PTN favorit yang mereka idamkan. Sistem undangan ini bertujuan menolong para calon mahasiswa, khususnya dari berbagai daerah yang minim fasilitas dan pendanaan, namun memiliki rekam jejak dan potensi akademik yang tinggi selama masa sekolah di SMA. Seiring perjalanan waktu, program undangan berubah nama menjadi Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK), dan terakhir Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Tujuan jalur undangan yang mulia, sayangnya tidak diimbangi berbagai pendukung sistem untuk menjaga kualitas dan kompetensi calon mahasiswa tersebut. Indikasi berbagai kasus kecurangan dan manipulasi data akademik siswa jalur undangan, satu persatu mulai tercium dan terkuak, baik melalui penelusuran data maupun bukti otentik grafik nilai mereka selama menjalani sistem perkuliahan.

Pada tahun 2012 terdapat laporan bahwa 100 sekolah melakukan kecurangan SNMPTN (Inilah.com, 13 Desember 2013). Statement ini dilontarkan oleh Rektor Universitas Padjajaran, Ganjar Kurnia. Dari 100 sekolah tersebut, dilakukan verifikasi dan yang terbukti ada 20 sekolah yang melakukan kecurangan. Ada 7 kepala sekolah yang dimutasi, dan 13 yang diberi sanksi. Selanjutnya Ketua Panitia Pusat SNMPTN Ravik Karsidi, mengatakan bahwa panitia telah melakukan penulusuran kepada semua mahasiswa yang lolos SNMPTN tahun 2016. Hasilnya, nilai akademik mahasiswa lulusan SNMPTN banyak yang mengecewakan dibandingkan mahasiswa  seleksi ujian tulis (SBMPTN). Indeks Prestasi Kumulatif lulusan SNMPTN kerap di bawah rata-rata. (Pikiran Rakyat, 24 Januari 2017)

Sungguh ironis, para mahasiswa yang notabene para calon intelektual pemimpin bangsa, dihasilkan dari sebuah seleksi masuk yang mempunyai berbagai kelemahan, terjadi berulang, dan seolah tidak ditemukan solusi optimalnya.

Blockchain merupakan salah satu teknologi terkini yang kerap digadang sebagai alternatif teknologi yang dapat mengoptimalkan sistem dengan memangkas waktu, biaya, dan rantai birokrasi. Teknologi ini  berbasis ilmu kriptografi, salah satu pengembangan ilmu aljabar, yang selama ini sering diterapkan pada ranah telik sandi. Salah satu implementasi blockchain sampai saat ini terkait erat dengan mata uang bitcoin yang masih menjadi kontroversi di Indonesia. Namun implementasi blockchain di ranah pendidikan, khususnya dalam mengantisipasi kecurangan program undangan sangatlah strategis dan dinanti. Mengapa?

Secara umum ada 4 karakteristik keunggulan blockchain, yaitu transparan, terpercaya, aman, dan efisien. Karakteristik transparan mengandung makna bahwa jaringan blokchain bersifat desentralisasi sehingga seluruh data tidak lagi dikelola oleh satu institusi yang bersifat tertutup, namun dapat dikelola oleh ribuan bahkan jutaan member/stakeholder yang terdapat pada jaringan blockchain secara terbuka. Artinya seluruh guru, siswa, bahkan orang tua sekalipun mempunyai akses kontrol dan kepemilikan ke basis data (database) sistem pendidikan, dimana mereka terlibat didalamnya. Hal ini dapat menghindari kesalahan atau kecurangan individu atau institusi tunggal yang mengelola basis data suatu sistem pendidikan, baik tingkat sekolah,propinsi, bahkan negara sekalipun.

Terpercaya menegaskan bahwa jaringan blockchain berfungsi sebagai buku besar (ledger) terdesentralisasi. Buku besar ini membagi seluruh informasi ke seluruh stakeholder jaringan secara valid. Berbagai data penyusun informasi disimpan dengan sangat akurat dan tidak bisa dimodifikasi (immutable). Jika ada suatu pengumuman/keputusan penting dari pimpinan suatu institusi yang terkait ranah  pendidikan, baik itu lingkup SMA maupun dinas pendidikan, maka sistem blokchain akan membagi informasi tersebut tanpa mengurangi maupun menambahkan sedikitpun isi informasi sehingga terhindar dari berbagai information frauds.

Selanjutnya karakteristik keamanan menjamin berbagai potongan data suatu informasi dapat disebar ke seluruh komputer stakeholder yang tergabung dalam jaringan melalui fungsi hashing, salah satu fungsi matematika yang digunakan. Jika ada yang mencoba meretas secara internal maupun eksternal salah satu informasi saja, maka ia butuh mengumpulkan minimal lebih dari 50% kumpulan potongan data yang tersebar dan sudah dienkripsi terlebih dahulu. Bisa dibayangkan jika stakeholder yang tergabung dalam jaringan ada sekitar 2000 stakeholder, artinya sang peretas wajib meretas atau mengumpulkan potongan-potongan data minimal 1001 stakeholder dalam jaringan, pada waktu yang bersamaan. Karena jika peretasan dilakukan pada waktu yang berbeda, dan ada penambahan data pada selang waktu tersebut, maka konfigurasi seluruh potongan datapun akan berubah secara otomatis. Suatu usaha sia-sia yang sangat menghabiskan waktu, energi, dan biaya.

Karakterisitik efisien menitikberatkan pada algoritma pemrograman dan struktur datanya, dimana semua data secara otomatis dijalankan melalui prosedur yang telah ditentukan sebelumnya. Karena itu blockchain tidak hanya dapat mengurangi biaya tenaga kerja secara signifikan, tetapi juga meningkatkan efisiensi. Hal ini bisa terjadi karena blockchain memungkinkan proses transaksi (pertukaran data) peer to peer, misalkan antara siswa/orang tua dengan pihak panitia sistem undangan (SNMPTN) sehingga tidak lagi dibutuhkan peran pihak ketiga (sekolah) dalam memvalidasi data. Jika salah satu pihak atau bahkan keduanya berusaha memanipulasi data yang mereka input, dalam hitungan detik akan langsung terdeteksi dan diketahui oleh seluruh stakeholder yang lain akibat adanya mekanisme kriptografi . Jadi secara otomatis pihak manapun yang nakal dalam melakukan suatu transaksi, akan terhukum langsung secara teknologis dengan dampak sosio-psikologis, karena langsung ketahuan secara valid oleh seluruh stakeholder dalam jaringan.

Salah satu kelemahan teknologi Blockchain saat ini adalah masih dalam taraf pengembangan, hanya beberapa perusahaan besar yang berani investasi memakai teknologi tersebut. Ke depan diharapkan bahwa teknologi blockchain dapat terkoneksi secara nasional dalam bidang pendidikan sehingga dapat dijadikan alternatif utama sistem pencegahan kecurangan dan kelalaian di ranah pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

 

NalarOnLine News |